Showing posts with label Australia. Show all posts
Showing posts with label Australia. Show all posts

Monday, July 15, 2019

Sampah Plastik Australia Berakhir di Desa Bangun Mojokerto | PT Rifan Financindo

Sampah Plastik Australia Berakhir di Desa Bangun Mojokerto

PT Rifana Financindo - Pekan lalu Indonesia mengumumkan akan mengembalikan delapan kontainer sampah daur ulang ke Australia, setelah diketahui tercemar dengan limbah B3. Kini orang Australia mempertanyakan apa yang harus mereka masukkan ke tempat sampah dan dimana sampah-sampah itu berakhir.

Koresponden ABC David Lipson mendatangi Bangun, sebuah desa di Mojokerto, Jawa Timur, yang menjadi tempat pemilahan sampah-sampah daur ulang dari berbagai negara, termasuk Australia.
Dari kejauhan sudah tampak bagaimana desa ini "ditelan" oleh tumpukan sampah plastik dimana-mana.
Di halaman rumah, di hampir setiap lahan kosong, tumpukan sampah menggunung - dikirim ke sana oleh perusahaan daur ulang yang membayar warga setempat untuk memilahnya.
Tak butuh waktu lama bagi wartawan ABC untuk menemukan merek-merek Australia di antara tumpukan sampah itu.
Sampah-sampah ini terasa tak asing lagi - dan teringat bagaimana warga Australia yang sebenarnya dengan teliti memisahkan sampah yang mereka buang, hanya akan berakhir di Bangun.
Bagi anak-anak di Desa Bangun, sampah-sampah itu dijadikan tempat bermain. Sedangkan bagi orangtua mereka, inilah sumber pencaharian.
"Kami mengerjakan hal ini demi anak-anak, demi sekolah mereka, dan untuk menutupi semua pengeluaran. Warga di sini bergantung pada bisnis daur ulang ini," kata Supiyati, salah seorang warga setempat.
Supiyati telah memilah sampah selama delapan tahun. "Saya pernah menemukan gigi emas. Saya jual Rp 800 ribu!" katanya kepada ABC.
Saat ini Supiyati mempekerjakan empat orang tenaga pemilah sampah, yang dibayar Rp 40 ribu per orang per hari.
Secara berkala, tampak truk-truk dari pabrik kertas datang ke sana menurunkan muatannya. Para tenaga pemilah sampah pun langsung bekerja memisahkan plastik.
Semua yang masih bisa didaurulang akan diikat dalam bundel dan dibawa pergi untuk dijual kembali.
Sedangkan sampah-sampah tersisa yang tidak berharga lagi - dibawa ke tepi sungai dan dibakar di sana.
Lebih murah kirim ke luar negeri
DR Joe Pickin, direktur Blue Environment di Australia secara terpisah menjelaskan, negara ini mengekspor sampah sebanyak lebih dari 4 juta ton per tahun, dan 20 persen di antaranya masuk ke Indonesia.
Menurut Dr Pickin ekspor sampah telah dilakukan Australia selama bertahun-tahun karena lebih murah dibandingkan biaya mengolahnya di dalam negeri.
"Kita sudah lama keenakan dengan biaya daur ulang yang sangat murah (dengan mengirimnya ke negara lain)," jelasnya.
"Mereka telah membayar untuk daur ulang kita dengan sangat baik sehingga menjadi bonanza bagi kami secara finansial. Tapi sekarang kita harus mengatasinya, kita harus membayar sedikit lebih mahal. Toh kita pada dasarnya mengekspor polusi," papar Dr Pickin.
Seorang warga Bangun lainnya yang ditemui ABC, Sugeng, merupakan salah satu dari sedikit penduduk di sana yang tak terlibat bisnis daur ulang.
Dia seorang nelayan yang harus pergi jauh untuk menangkap ikan, tak lagi seperti dulu dia bisa menebar jalannya di sungai terdekat.
Sugeng menunjukkan danau tempatnya biasa berenang ketika masih anak-anak dan kini dalam kondisi berbau menyengat.
Menurut dia, limbah buangan dari pabrik yang memproses kertas daur ulang telah merenggut sebagian kawan masa kecilnya.
"Ketika saya masih kecil, airnya bersih di daerah ini. Kita bisa berenang, bermain, semua masih alami. Tapi tidak ada yang bisa bermain di sungai lagi karena air tercemari pabrik kertas," katanya.
Sugeng percaya semua limbah plastik itu telah membuat desanya sakit.
"Saya tidak bisa pastikan apakah kawan-kawan saya meninggal karena polusi, tapi banyak yang meninggal muda," jelasnya.
"Orang-orang di Solo dan Yogyakarta meninggal karena usia tua, tapi tidak begitu di sini," kata Sugeng.
Pengaruh limbah plastik ini, menurut Prigi Arisandi dari LSM Ecoton, sangat berbahaya bagi tubuh manusia.
"Orang Surabaya minum dari sungai ini sehingga akan masuk ke dalam tubuh dan darah kita," katanya.
Sejak China menutup keran impor sampah dari berbagai negara, bisnis daur ulang dunia pun mengalami kekacauan. Salah satu dampaknya, kian banyak limbah plastik diselundupkan di antara bahan baku daur ulang kertas.
Tadinya, kata Dr Pickin, perusahaan daur ulang di China menyerap semua sampah tersebut, memilahnya, namun pengolahan residu sangat buruk sehingga menimbulkan banyak polusi.
Meskipun perusahaan-perusahaan itu masih mau mengimpor sampah, namun kata Dr Pickin, Pemerintah China sudah tak mau lagi dan memutuskan untuk menutup pintu bagi sampah impor.
Maka, sampah-sampah itu dikirim ke negara lain termasuk Indonesia, yang kini juga sudah mulai bersikap menolak.
Pekan lalu misalnya, petugas bea cukai menolak 210 ton limbah kertas Australia yang positif terkontaminasi bahan berbahaya dan beracun (B3).
Namun di Desa Bangun, sangat sedikit warga yang ditemui ABC yang ingin bisnis daur ulang dihentikan.
Mereka percaya, memilah plastik adalah satu-satunya kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
"Yang penting anak-anak saya tidak berakhir seperti orangtua mereka. Itu saja yang saya inginkan," ujar Supiyati.
Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.

Sumber: News.detik
PT Rifana Financindo 

Monday, June 3, 2019

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, Australia | PT Rifan Financindo

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, AustraliaPT rifan financindo - Menjalani Ramadhan di negeri minoritas muslim seperti Australia menorehkan kesan tersendiri. Puasa dijalankan dengan semangat persaudaraan yang kental.

Salah satu yang mengesankan bahkan bisa dikatakan istimewa adalah bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim gugur dimana durasi puasanya hampir sama singkatnya dengan durasi puasa di musim dingin. Di kedua musim ini, durasi puasa hanya berlangsung 10 hingga 11 jam saja, dimana subuh dimulai dari pukul 05.25 pagi, sementara magrib berkisar pukul 17. 16 sore. Relatif singkat, bukan?

Berbeda ceritanya jika berpuasa di musim panas, durasi waktu menahan lapar dan dahaga cenderung lebih lama, yakni berkisar hingga 18 jam lamanya. Nuansa musim gugur yang identik dengan gugurnya daun-daun cantik berwarna kekuningan dan merah menjadi ornamen pemanis Ramadhan di tahun ini. Luar biasa indah dan cantik. Terkadang, menjelang waktu berbuka, saya sangat senang menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal saya untuk menikmati keindahan daun-daun ini. Masya Allah.

Bagaimana dengan tarawih dan buka puasa bersama? Meski tengah menjalani studi di Adelaide, yang dikenal dengan Negeri 1.001 Gereja, hal ini tidak menyurutkan semangat para muslim yang berasal dari berbagai penjuru untuk menghidupkan nuansa Ramadhan.

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, AustraliaBuka puasa bersama di University of South Australia, mengundang nonmuslim (Diana Purwati/Istimewa)
Salah satu cara untuk memeriahkan pernak pernik Ramadhan ini adalah dengan mengadakan buka puasa bersama. Di Kampus saya, The University of South Australia Magill, berbuka puasa bersama (iftar dinner) diadakan setiap hari Jumat yang diadakan oleh komunitas muslim dan Centre for Islamic Thought and Education (CITE).

Di sinilah saya merasakan nuansa Ramadhan dan persaudaraan Islam yang sangat kental. Saat berbuka puasa, para saudara muslim yang berasal dari berbagai penjuru negeri membawa makanan khas dari negara masing-masing. Sehingga, nuansa berbuka diwarnai dengan makanan cita rasa internasional. Hal yang paling unik yang saya rasakan saat Iftar Dinner adalah ajang ini menciptakan ruang belajar tersendiri bagi saya, karena dari sini kami bisa saling bertukar cerita terkait ragam budaya dari berbagai belahan dunia, khususnya terkait nuansa Islam dan Ramadhan di negeri masing-masing.

Tak ayal, sapaan akrab, seperti "How are you, sister/aunty/ brother/ grandma?" mewarnai keakraban kami. Di acara iftar dinner ini, yang datang meramaikan bukan hanya saudara sesama muslim saja namun juga teman-teman maupun para akademisi yang bukan beragama Islam. Sehingga, di sela-sela menikmati hidangan berbuka, sering kali mereka bertanya mengenai Ramadhan. Selain itu, sikap menghormati juga tergambar jelas dari adab mereka. Bahkan, salah satu peserta mengatakan "It's such an honour for me to take part in your holy month event, thank you."

Tak hanya komunitas Islam di kampus, kehadiran komunitas islam Indonesia, seperti Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS) dan KIA (Kajian Islam Adelaide) juga turut andil dalam menghidupkan nuansa Ramadhan di Negeri Kanguru ini. MIIAS, khususnya, mengadakan kajian dan buka puasa bersama rutin di tiap pekan setiap hari Sabtu dan Minggu. Bahkan, dengan adanya kedua komunitas ini, seolah menjadi pembayar rindu tatkala menjalani Ramadhan di negeri ibu pertiwi tercinta sebab makanan cita rasa Nusantara dan keakraban dengan teman-teman dari Indonesia bisa dirasakan.

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, AustraliaBuka puasa bersama MIIAS (Diana Purwati/Istimewa)
Terkait tarawih, selain dilaksanakan di masjid-masjid, salat sunah selama bulan Ramadhan ini juga diadakan di masing-masing kampus. Salah satunya di kampus saya, The University of South Australia. Meski melaksanakan tarawih di negeri minoritas, jumlah ayat yang dibaca di setiap kali tarawih adalah 1 juz. Selepas tarawih, para jamaah pun diberi khutbah singkat. 

Menjalani Ramadhan di Australia, selain memiliki euphoria tersendiri, tentunya punya tantangan tersendiri. Selain karena faktor cuaca yang cukup dingin disertai dengan hujan bahkan angin yang menusuk kulit, tantangan di lingkungan akademik juga sering saya rasakan. Sebut saja saat berdiskusi bersama teman kelas, di saat tengah menahan lapar dan dahaga, teman-teman disekeliling terkadang asyik menyantap makanan dan minuman dengan leluasa. Bahkan, disaat mereka menawarkan makanan dan saya menjelaskan bahwa saya sedang berpuasa, tak ayal salah satu teman kelas saya terkaget dan berkata, "Wow! We need to finish many assignments but you keep fasting, Diana. How can?" ucap mereka terheran.

Sering juga saya disodori pertanyaan terkait mengapa saya berpuasa, untuk apa dan karena apa. Sehingga dari sini terkadang tercipta ruang dialog tersendiri. Masih terkait tantangan akademik, dikarenakan di bulan Ramadhan ini merupakan semester terakhir saya, mengimbangi antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dan proyek penelitian akhir yang deadline nya sangat padat, terkadang menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan target-target ibadah selama Ramadhan. Hal ini tidak hanya dialami oleh saya pribadi, namun juga oleh mahasiswa lainnya yang tengah menjalani study di negeri maju ini.

Selain itu, tempat makanan dan minuman tetap beroperasi seperti biasanya. Bisa dibayangkan ketika melewati tempat-tempat ini, terutama di puncaknya menahan lapar dan nafsu, aroma bumbu makanan dan minuman sangat jelas terasa. Begitu pun dengan pemandangan para warga yang tengah asyik berkumpul menyantap hidangan makanan terutama di jam istirahat siang, terkadang menjadi godaan tersendiri.

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, AustraliaKajian MIIAS (Diana Purwati/Istimewa)
Namun, di luar tantangan yang dihadapi, satu hal yang paling saya kagumi dari Negeri Kanguru ini terkait toleransi nya dalam menghargai kepercayaan dan keberagaman budaya. Bahkan, selama kami tarawih, satpam kampus terus membantu mengamankan proses ibadah kami. Teman saya yang juga memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya, terkadang turut membantu dalam menyediakan menu berbuka dan sahur, hingga terkadang ikut mencoba berpuasa. Nuansa seperti ini tentunya membantu proses kekhusyukan menjalani Ramadhan di negeri minoritas dan menjadi hal yang akan senantiasa saya rindukan ketika kembali mengabdi di bumi pertiwi tercinta. 

*) Diana Purwati adalah mahasiswi dari Dompu-NTB yang tengah menempuh pendidikan jurusan Master Education (TESOL) di University of South Australia, Adelaide. Penulis juga menjadi pengurus aktif di organisasi Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS)
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).


Sumber : News.detik
PT rifan financindo