Showing posts with label Harga Minyak. Show all posts
Showing posts with label Harga Minyak. Show all posts

Tuesday, January 7, 2020

Goldman Sachs: Lonjakan Harga Minyak Diperkirakan Berumur Pendek | PT Rifan Financindo Berjangka

Goldman Sachs: Lonjakan Harga Minyak Diperkirakan Berumur Pendek

PT Rifan Financindo  -  Harga minyak global tersulut ke level di atas US$70 per barel dipicu oleh perseteruan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat setelah serangan untuk membunuh Jenderal Qassem Soleimani pada 3 Januari.
Akan tetapi umur harga minyak di level tersebut diperkirakan berlangsung singkat, seandainya minim sentimen pengait.
Goldman Sachs Inc. dalam risetnya yang dirilis Senin (6/1/2020) dikutip dari Bloomberg, memperkirakan, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan menjaga harga minyak tetap memanas. Namun, sentimen itu saja belum cukup, perlu ada gangguan aktual terhadap suplai global minyak mentah agar level harga saat ini terjaga.
Bank tersebut memproyeksikan, harga minyak Brent yang telah melonjak 6% sejak serangan AS terhadap tokoh militer berpengaruh itu berisiko condong ke situasi negatif dalam beberapa pekan mendatang, bila tak ada gangguan besar terhadap pasokan minyak global.
Minyak telah diperdagangkan di atas nilai wajar fundamental bank tersebut sebesar US$63 per barel sebelum serangan, ditopang oleh reli terhadap aset risiko pada Desember yang terlalu antusias, kendati ada bukti terbatas terhadap percepatan pertumbuhan global.
“Setiap pembalasan oleh Iran [kepada AS] akan menargetkan aset-aset terkait produksi minyak,” kata analis Goldman Jeff Currie.
Menurut Goldman, serangan September tahun lalu pada fasilitas produksi minyak utama di Arab Saudi telah menunjukkan bahwa pasar memiliki fleksibilitas pasokan yang signifikan. “Hanya ada kenaikan moderat dari level saat ini, bahkan jika serangan terhadap aset minyak benar-benar terjadi,” kata bank tersebut.
Sebagai informasi, selepas serangan pada 14 September 2019 itu, harga minyak mencatatkan kenaikan harian hampir 20%. Namun setelah itu harga berangsur-angsur mereda, karena Saudi dengan cepat memulihkan produksinya.
Sementara itu, hingga pukul 15:08 WIB, Senin (6/1/2020), harga minyak mentah WTI menguat 1,60% atau 1,01 poin ke level US$64,06 per barel, sedangkan harga minyak Brent menguat 1,94% atau 1,33 poin ke level US$69,93 per barel. Pada sesi sebelumnya, harga WTI mendekati US$65 per barel, sementara Brent mencapai US$70 per barel.
Sebagaimana diketahui, retorika berubah menjadi lebih bermusuhan setelah Presiden Trump memperingatkan Iran tentang pembalasan besar AS. Trump juga mengancam sanksi berat pada sekutunya Irak setelah parlemen mereka memilih untuk mengusir pasukan Amerika dari negara itu dalam menanggapi serangan Baghdad.
Sumber: News.detik
PT Rifan Financindo

Thursday, December 12, 2019

Harga Minyak Goreng di Kota Yogya Naik Rp1000 | PT Rifan Financindo

Harga Minyak Goreng di Kota Yogya Naik Rp1000

PT Rifan Financindo  -  Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY bersama sejumlah instansi terkait di lingkungan Pemkot Yogyakarta melakukan pemantauan terhadap sejumlah komoditas sembako jelang memasuki Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN) serta libur panjang akhir tahun, pada Selasa (10/12/2019).

Kunjungan dilakukan pada sejumlah pasar tradisional, distributor dan juga gerai ritel modern.

"Dari sisi stok dan distribusi mudah-mudahan aman. Pantauan kami dari para pedagang harga juga masih cukup stabil," kata Asisten Bidang Perekonomian Setda Kota Yogyakarta, Kadri Renggono saat kunjungan di Pasar Kranggan.

Memasuki masa akhir tahun, dipastikan sejumlah permintaan untuk kebutuhan pangan di wilayah setempat bakal meningkat.

Selain memenuhi permintaan dari warga Yogya, stok kebutuhan bahan pangan untuk para pelancong juga dipersiapkan.

Kadri mengklaim, meskipun konsumsi bahan pokok cenderung meningkat cukup signifikan pada masa libur nanti, pihaknya sudah menyiapkan antisipasi dan kebutuhan stok yang dinilai cukup.

"Dari sisi supply juga sudah siap. Harapan kami meningkatnya permintaan pada tahun baru dan setelahnya nanti tidak membuat harga meningkat signifikan," imbuhnya.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY, Ni Made Dwi Panti menyatakan, pemantauan pada sejumlah pasar dan ritel modern tersebut merupakan agenda rutin guna melihat kondisi bahan pangan secara riil.

Tidak hanya di wilayah kota Yogya, pun pada sejumlah pasar di kabupaten lain juga ikut dikunjungi.

Menurut dia, dari hasil kunjungan didapati harga sejumlah bahan pokok masih tergolong dalam kondisi yang cukup stabil.

Meskipun terdapat kenaikan pada beberapa komoditas tertentu, namun kondisi tersebut diklaim hanya bersifat temporer.

"Terutama minyak goreng ya, tadi ada kenaikan sekitar Rp1000," ujarnya.

Berdasarkan data harian dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Yogya, dari delapan pasar tradisional di wilayah setempat per Senin (9/12/2019) lalu, harga rata-rata gula berada di angka Rp12.375/kg, minyak goreng curah Rp10.500/kg, daging ayam broiler Rp33.125/kg, telur ayam broiler Rp23.938/kg, cabai merah besar Rp22.333/kg serta bawang merah di harga Rp28.875/kg.

Ditambahkannya, fenomena fluktuasi pada sejumlah komoditas pangan juga disebabkan oleh kondisi Yogyakarta yang belum mampu menghasilkan sendiri kebutuhan pangan masyarakat.

Dia menyebut, pasokan bahan pangan untuk masyarakat dan kebutuhan lain masih bergantung pada daerah lain.

"Temuan yang janggal masih belum ada. Cuman tadi pagi ada informasi yang kaitannya dengan gula rafinasi. Perlu kontrol yang jelas karena berkaitan dengan kemanan pangan," tambahnya.

Dwi Panti mengklaim, keberadaan gula rafinasi itu bukan ditemui pihaknya saat melakukan kunjungan pada sejumlah pasar.

Melainkan didapat dari informasi distributor.

Dia mengatakan, distribusi pada gula rafinasi perlu dilakukan pemisahan.

Pasalnya, penggunaan komoditas itu bukan diperuntukkan bagi rumah tangga, melainkan bagi kebutuhan industri.

"Informasi dari distributor besar kota tadi. Jadi gula rafinasi itu sudah dibuat di karung dan seperti gula lokal," imbuh dia.


Harus Sesuai HET

Sementara, Kepala Bidang Bimbingan Usaha, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Disperindag Kota Yogya, Benedict Cahyo Santosa mengatakan, pihanya bakal melakukan antisipasi dan juga pengawasan terhadap potensi kenaikan harga tabung gas LPG menjelang masa akhir tahun mendatang.


"Pengawasan kami lakukan dari sisi HET di tingkat pangkalan. Jadi nanti jangan sampai di tingkat pangkalan melebihi itu. Kalau di tingkat eceran yang belum bisa kita kendalikan," imbuhnya.

Dia menyampaikan, jika ditemukan pangkalan yang menjual harga diatas HET yakni senilai Rp15.500, tindakan penutupan dan pencabutan izin usaha bakal dilakukan.

"Nanti agen langsung yang bakal menindak, kita koordinasikan melalui itu," imbuh dia.

Namun demikian, persoalan yang kadang timbul adalah pangkalan juga sekaligus adalah pengecer.

Sehingga, pihaknya bingung menindaklanjutinya.

"Makanya sewaktu kita sidak dan kedapatan menjual di atas HET, mereka bilangnya pengecer," urainya.





Sumber: jogja.tribunnews
PT Rifan Financindo

Thursday, February 21, 2019

API Catat Kenaikan Minyak Mentah di Bawah Perkiraan, WTI Menguat | PT Rifan Financindo


PT Rifan Financindo - Harga minyak mentah  menguat setelah laporan industri menunjukkan penurunan persediaan bahan bakar AS dan peningkatan pasokan minyak mentah di bawah diperkirakan analis. West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret, yang berakhir Rabu, menguat 0,83 poin ke level US$56,92 per barel di New York Mercantile Exchange, tertinggi sejak 12 November.

Baca juga: OPEC Tambah Bukti Pengurangan Produksi, WTI Lanjutkan Reli

Kontrak April yang lebih aktif naik menjadi US$ 57,28 per barel pada pukul 16.45 di New York setelah menetap di level US$57,16.

Sementara itu, minyak mentah patokan global, Brent, untuk konttrak April menguat 0,63 poin ke level US$67,08 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Baca juga: 4 Pembangkit Listrik Milik PLN Siap Gunakan B100

Dilansir Bloomberg, minyak mentah menguat pada hari Rabu setelah American Petroleum Institute melaporkan persediaan bensin domestik turun 1,55 juta barel pekan lalu, sementara persediaan minyak distilat turun 758.000 barel.

API juga mencatat cadangan minyak mentah naik 1,26 juta barel, di bawah proyeksi analis dalam survei Bloomberg yang memperkirakan kenaikan 3,1 juta barel.

"Kenaikan minyak mentah secara keseluruhan sedikit kurang dari perkiraan. Pada saat yang sama, penurunan cadangan bensin dan minyak distilat menopang harga," kata Kyle Cooper, konsultan di ION Energy, seperti dikutip Bloomberg.

Minyak ditutup pada level tertinggi sejak November karena kekhawatiran yang berkembang mengenai pasokan di Venezuela menambah keyakinan terhadap rencana penurunan pasokan global oleh OPEC dan mitranya.

Minyak mentah telah naik lebih dari 25% tahun ini di New York setelah OPEC dan sekutunya bekerja untuk memangkas produksi. Namun, perang perdagangan AS-China yang sedang berlangsung terus mengancam pertumbuhan ekonomi global serta permintaan.

Di AS, produksi minyak mentah tetap pada kisaran 12 juta barel per hari. WTI juga masih sekitar US$20 lebih rendah dari level tertinggi yang dicapai pada awal Oktober.

Komite Teknis Gabungan OPEC+ menilai kepatuhan dengan pembatasan produksi kelompok mencapai 83% pada Januari, bulan pertama dari kesepakatan, sementara Arab Saudi dan Rusia telah mengisyaratkan mereka akan meningkatkan pemotongan output.

Sementara itu, perlawanan Nicolas Maduro untuk mengalah pada tekanan terhadap rezimnya menandakan gejolak di Venezuela mungkin berlanjut. "Pasar tampak seperti mengangkat kepalanya ketika minyak mendorong menembus level tertinggi kemarin," kata Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy. “Reli minyak mentah tampaknya sebagian besar didorong oleh gagasan bahwa pengurangan produksi oleh OPEC dan Rusia mulai benar-benar muncul dan sanksi yang keras terhadap Venezuela menambah prospek pasokan yang diperketat," lanjutnya.

Sumber: market.bisnis

PT Rifan Financindo